Nama Koperasi Nusantara Disebut Dalam Sidang Sengketa Mafia Tanah

Radarbuana.com | Jakarta – Sidang lanjutan perdata sengketa kepemilikan tanah antara Bayu Kusumo Dewantoro dan Ryza J. Adam digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel). Nama Koperasi Nusantara kembali disebut dalam persidangan perkara mafia tanah tersebut.

Pada persidangan 9 Juni 2021, di pimpin Majelis Hakim: Akhmad Sahyuti, S.H., M.H., Toto Ridarto, S.H., M.H., Arlandi Triyogo, S.H., M.H. Kuasa Hukum Penggugat Kantor Hukum RD & Associates: Pantas Manalu, Bernard J. Pasaribu, sedangkan Kuasa Hukum Tergugat dari Kantor Hukum Gani Djemat & Partners: Andrias H. Nayoan, S.H., Ando Christian, S.H. dan Billy Elanda, S.H.

Hadir saksi dari kuasa hukum Ryza J. Adam dari Kantor Advokat Gani Djemat & Partners, Maharani menerangkan bahwa sertifikat rumah yang dahulu ditempati oleh Maharani telah diagunkan oleh Diah Respati kepada Koperasi Nusantara tanpa sepengetahuan Maharani. Diah Respati sendiri kini telah menyandang gelar terdakwa.

Selain itu, saksi lainnya yang dihadirkan oleh kuasa hukum Ryza J. Adam yang bernama Susana Somali menerangkan bahwa Bayu Kusumo Dewantoro (Penggugat) pernah datang dan melakukan pengecekan ke rumah milik Susana Somali dengan menggunakan mobil dinas Koperasi Nusantara. Saksi Susan juga mengaku pernah bertemu Bayu dan Melynda Dee di Koperasi Nusantara Jalan Sahardjo, Jaksel.

Dalam persidangan sebelumnya pada tanggal 21 April 2021, Freddy Sudasril dan Muhamad Iwan dari bangku saksi menerangkan bahwa Bayu Kusumo Dewantoro merupakan karyawan Koperasi Nusantara. Keterangan yang sama juga disampaikan oleh Briptu Nanang Nurgiyanto, penyidik Polda Metro Jaya yang melakukan proses penyidikan terhadap Laporan Polisi yang diajukan oleh Ryza J. Adam dan turut dihadirkan sebagai saksi dalam persidangan pada tanggal 19 Mei 2021, dimana pada saat itu saksi Nanang Nurgiyanto pada pokoknya memberikan keterangan bahwa dari hasil penyidikan ditemukan adanya aliran dana dari Koperasi Nusantara kepada Bayu Kusumo Dewantoro yang kemudian digunakan untuk membeli tanah dan bangunan milik Ryza J. Adam yang terletak di kawasan Pondok Indah dari Jesse Darmawan.

Perkara ini muncul di tengah maraknya kasus mafia tanah yang sedang terjadi di Indonesia dan bermula dari gugatan yang diajukan oleh Bayu Kusumo Dewantoro terhadap seorang ibu rumah tangga yang telah berumur hampir 80 tahun yaitu Ryza J. Adam, dimana dalam gugatannya, Bayu Kusumo Dewantoro mendalilkan telah membeli rumah dari Jesse Darmawan yang nyatanya rumah tersebut sejak tahun 1996 telah dimiliki oleh Ryza J. Adam dan hingga saat ini ditempati oleh keluarga Ryza J. Adam. Ryza J. Adam sendiri menyangkal keabsahan dari transaksi jual-beli yang dilakukan oleh Bayu Kusumo Dewantoro dengan Jesse Darmawan tersebut, dan menduga keras bahwa dokumen-dokumen yang digunakan dalam transaksi jual-beli, antara lain Akta Kuasa Menjual No.105/2018 merupakan dokumen palsu. Sehubungan dengan hal tersebut, Ryza J. Adam telah membuat Laporan Polisi dan terhadap Laporan Polisi tersebut saat ini telah telah ditetapkan beberapa tersangka yaitu Scot Donovan David Limaran, Asmadi, Kawentar B. Kasmadi, Hakim Muslim, dan Jesse Darmawan, bahkan diketahui bahwa tim penyidik Polda Metro Jaya juga sudah mulai melakukan pelimpahan berkas perkara atas Laporan Polisi tersebut kepada Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta.

Dr. Humphrey R. Djemat, S.H., LL.M. selaku ketua tim kuasa hukum Ryza J. Adam menyatakan bahwa dari keterangan-keterangan yang muncul di persidangan, patut diduga keras telah terjadi suatu kejahatan yang dilakukan secara terorganisir serta melibatkan banyak pihak dengan cara menjalankan perannya masingmasing. Ada yang berperan sebagai pihak yang mendekati korban dengan berpura-pura untuk membeli tanah atau aset milik korban, Notaris, pembuat sertifikat palsu, eksekutor penukaran sertifikat asli dengan sertifikat palsu, ada yang berperan sebagai pembeli yang beriktikad baik, bahkan ada juga peranan dari penyandang dana yang diduga berlindung di balik suatu badan hukum dengan berkedok sebagai pemberi pinjaman dana, dimana rangkaian peristiwa tersebut identik dengan modus operandi yang biasa dilakukan oleh para mafia tanah.

Lebih lanjut lagi, menurut Dr. Humphrey R. Djemat, S.H., LL.M., kasus yang menimpa Ibu Ryza J. Adam semakin memperlihatkan secara nyata eksistensi dari mafia tanah yang sekaligus menunjukkan bahwa perkara hukum yang sedang dihadapi oleh Kliennya, hanya merupakan puncak gunung es dari sekian banyak korban-korban mafia tanah lainnya.

Oleh karena itu, komitmen dan tindakan tegas serta keseriusan dari Penegak Hukum sangatlah diperlukan dalam memberantas praktek-praktek kejahatan yang dilakukan oleh para mafia tanah di Indonesia, terlebih lagi terhadap para penyandang dananya.

Tom

43 Views

adminradar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Ketua Lazisnu PCNU Jakbar Sosialisasikan Pembangunan Rumah Anak Yatim dan Kantor

Kam Jun 10 , 2021
  RadarBuana.com | Jakarta – Bekerjasama dengan Yayasan Mars Bintang Harapan Indonesia (MBHI) yang dipimpinan oleh H. Sarmilih, Ketua Lazisnu Pengurus Cabang NU (PCNU) Jakarta Barat, Ustad Nurudin SAg, telah mensosialisasikan pembangunan Rumah Anak Yatim dan Kantor Lazisnu PCNU Jakarta Barat. Rabu, (09/06/2021). Lokasi pembangunan Rumah Anak Yatim dan Kantor […]

Sponsor