Radarbuana | Jakarta — Sebuah gelombang perlawanan tajam kembali bergulir dari cerdik cendekia gerakan mahasiswa. Melalui seruan bersama bertajuk “Nestapa Indonesia”, aliansi mahasiswa dari tiga perguruan tinggi ternama—Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI), dan Universitas Gadjah Mada (UGM)—mengeluarkan pernyataan sikap keras menuntut koreksi total atas penyelenggaraan negara.
Dalam video rekaman yang beredar luas dan menjadi sorotan publik, yang diterima media ini 3 Oktober 2026, perwakilan mahasiswa menegaskan bahwa kedatangan mereka tidak lagi sekadar membawa panji-panji almamater, melainkan menyuarakan kemarahan publik yang sekian lama diabaikan oleh para pemegang kekuasaan.
Demokrasi Terperosok, Kritik Dibalas Caci Maki
Mahasiswa menyoroti tajam indikasi kemunduran kebebasan dan ruang demokrasi di tanah air. Kritik yang semestinya menjadi fondasi check and balances justru disikapi secara represif dan dianggap sebagai ancaman.
”Ketika rakyat bersuara, kekuasaan memilih menutup telinga. Ketika mahasiswa mengkritik, suara terus dicurigai. Ketika para ahli menyampaikan koreksi, kepakaran justru dibalas caci maki,” pungkas orator dalam video tersebut.
Mereka membeberkan jurang pemisah antara realitas di lapangan dengan narasi yang dibangun pemerintah. Di saat masyarakat dihimpit tingginya biaya hidup, beban pajak, serta tarif transportasi, alokasi anggaran negara dinilai justru dihabiskan untuk program-program yang minim transparansi dan lemah pertanggungjawaban.
Kekuasaan Bukan Warisan, Menolak Dirampas Oligarki
Menanggapi tuduhan yang kerap dialamatkan pada gerakan kritis, aliansi mahasiswa menegaskan bahwa mereka tidak sedang memusuhi negara atau memicu kekacauan.
”Kami tidak menyerukan kebencian, kami menyuarakan keberanian. Kami tidak menginginkan kekacauan, kami menginginkan perubahan,” tegas mereka. “Kami menolak negara dirampas oleh kepentingan kekuasaan. Negara bukan milik elit oligarki, kekuasaan bukan warisan!”
Mahasiswa mengingatkan penguasa bahwa kedaulatan tertinggi berada di tangan rakyat. Kesabaran masyarakat ditegaskan bukan sumber daya yang bisa dieksploitasi tanpa batas.
Panggilan Konsolidasi Lintas Sektor
Guna menghadapi situasi yang dinilai kian kritis, perwakilan mahasiswa menyoroti pentingnya merapatkan barisan. Mereka menyerukan konsolidasi ke seluruh pelosok Indonesia—mulai dari kalangan akademisi, buruh, petani, nelayan, pengemudi, pekerja informal, jurnalis, seniman, hingga kelompok perempuan—untuk bersatu membentuk infrastruktur gerakan yang solid.
Mengakhiri seruannya, mereka mewanti-wanti pihak penguasa: jika pintu diskusi terus ditutup dan rakyat terus ditinggalkan, mahasiswa akan berdiri di garis terdepan untuk memenuhi ruang-ruang publik bersama rakyat.
[]






