RadarBuana | Jakarta -Carla Bianpoen yang dikenal sebagai jurnalis dan satu dari kritikus, kurator, serta pengulas seni di Indonesia menerima penghargaan “Roosseno Award XI” yang diselenggarakan di Auditorium Toeti Roosseno Plaza pada Senin (26/6/2023). Dedikasi Carla Bianpoen dalam menyoroti perkembangan seni kontemporer di Indonesia terutama karya perupa perempuan menjadi pertimbangan dewan juri.
Kontribusi Carla Bianpoen terbesar terletak dalam persilangan antara dua dimensi di atas: yakni kurasi serta kerja dalam mengangkat karya unggulan di bidang seni rupa kontemporer, khususnya karya seniman perempuan dan jurnalisme yang menyorot gerakan perempuan di era dan pasca Reformasi yang jarang mendapat sorotan media arus utama.

Delapan orang yang mengenal Carla Bianpoen memberikan testimoni tentang kontribusi Carla dalam dua aspek tersebut: Bambang Sugiharto (Guru Besar Fakultas Filsafat, Universitas Parahiyangan, pakar posmodemisme), Dolorosa Sinaga (seniman, dosen dan aktivis kemanusiaan), Inda Citraninda (seniman, direktur Galeri Museum Cemara 6). Mayling Oey-Gardiner (guru besar FEUI pemerhati perempuan), Melani Budianta (guru besar FIBUI, peneliti gender dan kajian budaya), Melanie W. Setiawan (dokter, pengayom seni), Mella Jaarsma (seniman, pendiri Cemeti Institute for Art & Society), Ninuk M. Pambudy (redaktur senior Harian Kompas). Paparan ini merupakan rangkuman dari kedelapan testimoni, dan testimoni Hilmar Farid Saparinah Sadli dan Jim Supangkat melalui video.
Carla Bianpoen adalah satu dari kritikus, kurator dan pengulas seni di Indonesia, yang jumlahnya sangat terbatas, dan sebagian besar adalah laki-laki. Sebagai perempuan-menurut Dolorosa Sinaga “daya tafsirnya atas karya seni yang pada waktu itu didominasi oleh pandangan kritikus seni lelaki- membawa pendekatan interpretasi yang .memperkaya cara pandang dan asosiasi terhadap ekspresi seni.”
Perlu dicatat bahwa Carla tidak membatasi perhatiannya pada seniman perempuan. Melani Setiawan mencatat, bahwa “ia dengan berani, lugas, dan gigih juga memberikan dukungan bagi perupa pria yang memiliki karya-karya yang kuat dan menarik” dan “cukup jeli melihat kekuatan-kekuatan visual para perupa terutama perupa muda.” Hal yang sama dikemukakan oleh Bambang Sugiharto yang melihat konsistensi Carla dalam memantau dengan “teliti dan cermat” “potensi-potensi seniman muda Indonesia dalam perkembangan jaman.”

Selama ini Roosseno Award memberikan penghargaan pada lembaga peneliti, namun sejak beberapa tahun sebelumnya penghargaan diberikan pada individu. Selain itu, Roosseno Awad juga mulai memperluas pemberian penghargaan, tak hanya di bidang teknik namun juga ke bidang lain seperti lingkungan hidup atau etos kerja, dan tahun ini diberikan untuk kritikus seni.
Sekumpulan ahli yang memilih Carla menilai, karya yang dihasilkan Carla perlu dianggap sebagai seni dan perlu dihargai karena itu bagian dari kekayaan intelektual. Penilaian tersebut termasuk konsistensi Carla dalam memperjuangkan kesetaraan gender, Carla dinilai orang yang mengangkat perupa perempuan bisa dihargai, dan juga dia lah salah satu individu yang mendorong dibentuknya Komnas Perempuan.
Sejak tahun 80-an Carla telah menghasilkan karya jurnalis terutama di bidang seni, ia juga menjadi kurator seni meski dirinya bukan seorang seniman. Tak hanya itu, Carla dianggap individu yang memperjuangkan hak perempuan. Saat tragedi Mei 1998, dia lah yang bersuara lantang memperjuangkan nasib etnis minoritas khususnya perempuan sebagai korban peristiwa tersebut.
Menurut mereka, Carla dinilai memiliki kemampuan yang luar biasa, ia mampu melihat yang “tidak terlihat”, bahkan di antara kurator seni laki-laki, ia bisa melihat guratan perupa yang jarang dilihat kurator lain bahkan oleh kurator pria.
Carla juga dinilai punya integritas di bidang seni, bahkan mampu merubah sudut pandang perupa perempuan, sebelum tragedi Mei ‘98 umumnya perupa perempuan banyak menghasilkan karya berupa bunga atau hal-hal yang romantis. Namun setelah tragedi itu, pandangan perupa perempuan perlahan berubah, karya mereka tak hanya bunga namun juga kritik sosial

Banyak hal istimewa dalam diri Carla, itu sekedar pandangan umum para testimoni kenapa harus Carla tahun ini. Banyak hal yang memunculkan nama Carla untuk menerima penghargaan Roosseno Award tahun ini, bukan karena ia seorang kritikus seni atau jurnalis tapi kepedulian Carla terhadap orang-orang “terpinggirkan” dan ia perjuangkan dalam setiap kesempatan.
[]
Related posts:

Sedekah Bumi Jolotundo Jadi Momentum Rawat Tradisi dan Pererat Persaudaraan

Pj Walikota Hadiri Pembacaan Babad Cirebon, Beri Pesan Pendidikan Moral dan Budi Pekerti

Ciganjur Heritage Foundation Silahturahmi Warisan Budaya Ke Makam Syekh Abdul Rozak

Peragaan Busana "Hanbok Wave" di Jakarta, Kerjasama YKDK dan Seniman Korean Wave Kembangkan Desain...

Festival Bongsang Ke-4 di Pasar Minggu Lestarikan Budaya Betawi dan Dukung UMKM Lokal

Koong World Inc MoU dengan KPE JN Promosi Album K-Pop Girl "Secret Number" Album "Love Bye' Di Ind...

HUT LPD Penglatan ke-36, Pemuda Ramaikan Langit dengan Lomba Layangan Mekorot

Seni Tarling Cerbonan Meriahkan Stasiun Cirebon, Upaya KAI Daop 3 Lestarikan Budaya Lokal

Forum Pelestari Pencak Silat Keris Indonesia Gelar Milad ke-1 di Pedepokan Pencak Silat TMII







