JakartaSeni dan Budaya

Menenun Kembali Akar Sejarah: Visi Pramono Anung Menjadikan Monas Pusat Penghormatan Ulama Betawi

×

Menenun Kembali Akar Sejarah: Visi Pramono Anung Menjadikan Monas Pusat Penghormatan Ulama Betawi

Share this article

Radarbuana | Jakarta  — Di tengah hiruk-pikuk kemeriahan Festival Bandeng Rawa Belong 2026 yang mewarnai kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, sebuah narasi besar mengenai masa depan identitas Jakarta mulai disuarakan. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, tidak hanya hadir sebagai tamu kehormatan dalam tradisi tahunan tersebut, namun ia membawa sebuah gagasan visioner yang bertujuan untuk menyatukan dimensi spiritual dan historis warga asli Jakarta dalam sebuah perhelatan akbar di jantung ibu kota.

​Pramono mengusulkan agar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menginisiasi haul akbar yang didedikasikan bagi para ulama dan pejuang Betawi. Rencana besar ini diproyeksikan menjadi tonggak penting dalam rangkaian perjalanan Jakarta menuju usia emas 500 tahun yang akan jatuh pada tahun mendatang. Menurut Pramono, selama ini kontribusi besar para tokoh agama dan pejuang lokal Betawi dalam membentuk peradaban Jakarta sering kali diperingati secara terpisah atau dalam lingkup komunitas kecil, sehingga sudah saatnya negara hadir untuk memberikan penghormatan kolektif di tingkat provinsi.

​Dalam visi yang dipaparkannya di hadapan tokoh adat dan ribuan warga, Gubernur membayangkan kawasan Monumen Nasional (Monas) bertransformasi menjadi lautan jemaah. Ia berencana merangkul majelis-majelis zikir dan selawat berskala masif, seperti Majelis Rasulullah dan Majelis Nurul Musthofa, untuk menghadirkan nuansa religi yang kental di ikon Jakarta tersebut. Langkah ini dinilai strategis tidak hanya untuk mendoakan para leluhur, tetapi juga untuk mempererat kohesi sosial di tengah masyarakat Jakarta yang kian heterogen.

​Kehadiran Pramono di Rawa Belong kali ini merupakan kunjungannya yang kedua, sebuah penegasan atas keberpihakannya pada pelestarian tradisi. Ia mengamati secara mendalam bagaimana Festival Bandeng Rawa Belong bukan sekadar ajang jual-beli ikan berukuran jumbo, melainkan sebuah simfoni akulturasi budaya yang indah antara etnis Betawi dan Tionghoa. Tradisi memborong bandeng menjelang Imlek bagi masyarakat Betawi adalah simbol kemakmuran sekaligus bentuk kepatuhan dan penghormatan kepada orang tua, sebuah nilai luhur yang dianggap Pramono harus terus dipupuk.

​Dukungan terhadap gagasan ini datang langsung dari tokoh sentral masyarakat Betawi yang juga merupakan mantan Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo. Sebagai Ketua Majelis Kaum Betawi, pria yang akrab disapa Foke ini menyampaikan apresiasi mendalam atas perhatian besar pemerintah saat ini terhadap akar kebudayaan lokal. Menurutnya, keberhasilan festival tahun ini adalah bukti nyata bahwa keterlibatan aktif komunitas lokal, mulai dari level lurah hingga tokoh pemuda di Rawa Belong, mampu menjaga marwah identitas kota agar tidak tergilas oleh arus modernisasi yang agresif.

​Secara ekonomi, festival ini terbukti menjadi motor penggerak bagi UMKM dan pedagang lokal, namun di tangan Pramono Anung, momentum ini ditarik ke arah yang lebih dalam secara substansial. Dengan rencana penyelenggaraan haul akbar di Monas, perayaan HUT Jakarta tidak akan lagi terjebak pada sekadar kemeriahan fisik berupa konser atau pesta rakyat semata. Jakarta diajak untuk menoleh sejenak ke belakang, menghargai keringat dan doa para pendahulunya, agar langkah menuju usia 500 tahun memiliki landasan moral dan kultural yang kokoh bagi seluruh warga Jakarta. (Igo)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *