Jakarta | Kapitalisme sering dibungkus dengan istilah pasar bebas dan kesempatan tanpa batas. Namun di balik narasi indah itu, tersimpan kenyataan pahit: sistem ini membiarkan kekayaan menumpuk di tangan segelintir elite, sementara jutaan orang hanya menjadi roda penggerak ekonomi tanpa kendali.
Kapitalisme menjadi sistem yang membuat segelintir orang kaya menjadi sangat kaya dengan menjadikan banyak orang tetap miskin.
Dalam kapitalisme, kekayaan tidak benar-benar “mengalir ke bawah”, justru terus mengalir ke atas memperkaya yang sudah kaya, dan menjauhkan akses kesejahteraan dari yang miskin.
Masalah utama dari kapitalisme adalah prinsip dasarnya: keuntungan di atas segalanya. Perusahaan besar beroperasi bukan demi kemaslahatan manusia, tetapi demi angka laba yang terus naik. Pendidikan, kesehatan, bahkan kebutuhan pokok dikomersialkan.
Dalam sistem ini, nilai manusia tidak ditentukan oleh akhlaknya, tapi oleh produktivitas dan daya beli. Maka wajar jika sistem ini melahirkan ketimpangan ekstrem: jutaan orang bekerja keras, tapi hasilnya hanya memperkaya pemilik modal.
Kapitalisme bukan hanya sistem ekonomi ia membentuk cara pandang hidup yang materialistis dan egois. Ketika kehidupan diukur dengan uang, maka kemanusiaan perlahan dikorbankan.
Begitu pula negara punya cara pandang, menjadi diktator mengambil keputusan ekonomi, berubah kapitalis ketika menemukan SDA lalu mendadak sosialis saat musim Pemilu.
Hanya menyisakan sedikit demokratis ketika terpaksa menerima perwakilan demonstran
Catatan sejarah menuliskan kaum Marhaenis lahir karena revolusi industri yg melahirkan praktek kolonialis.
Penjajah sudah pasti kapitalis.
Sekarang semangat pemberontakan secara terorganisir atas penindasan sudah mengalami degradasi.
Tetep berjuang melawan kapitalis, tapi untuk kepentingan dirinya sendiri
Jokowi yang awalnya berstatus marhaen kemudian berjuang secara politik menjadi marhaenis. Setelah menjadi Kapitalis baru, dia tidak bisa menolak aturan main menjadi kapitalis
Prabowo dari lahir sudah berstatus kapitalis, dia hanya memodifikasi menjadi demokrasi terpimpin
Berkali kali kalah Pilpres dan tiba-tiba menang Pilpres karena Jokowi menjadi indikasi jelas bahwa Prabowo tidak punya legitimasi publik baik secara politik maupun ideologi.
Jokowi harus bertanggung jawab atas carut marutnya pengelolaan negara yang dipercayakan kepada Prabowo
Prabowo tidak bisa disalahkan sendirian. Karena dia hanya diktator yang dipaksa menjadi Pemimpin.
Jalan pembebasan dari jerat kapitalis hanya tinggal satu : tetap menjadi Marhaenis, minimalnya sejak dalam pikiran
Oleh: @Dahono Prasetyo
Related posts:

HUT Cirebon ke-598: Kolaborasi dan Kerja Nyata, Setara untuk Pelayanan, Berkelanjutan dalam Pembang...

Moeldoko Membantah Soal Tudingan Akan Pengambilan Paksa Partai Demokrat

Hadapi Wabah Corona Dengan Tawakal

Pj Walikota Hadiri Rapat Pleno Penetapan Paslon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Cirebon Terpilih

Bawaslu Jakbar Terima 50 Laporan Pencatutan Nama Tanpa Izin

Rudy Mas'ud, Calon Gubernur Muda

SURAT TERBUKA UNTUK PRESIDEN Jokowi. (Tulisan ke -6

Pemkot Cirebon Ikuti Tahapan Verifikasi Nasional Kota Sehat, Dorong Pembangunan Inklusif dan Berkel...

Survei CNN: Kinerja Presiden Prabowo Raih Kepuasan 77,9 Persen, Polri Jadi Institusi Hukum dengan T...







