Radarbuana | Jakarta – Di tengah bayang-bayang krisis pangan global dan ketergantungan Indonesia pada impor gandum, sebuah gerakan revolusioner lahir dari tangan dingin seorang inovator lokal. Jenny Wijaya, sosok yang kini dikenal luas sebagai “Queen of Sagu Millennial”, tengah menjalankan misi ambisius: mentransformasi sagu dari sekadar makanan tradisional menjadi komoditas gaya hidup modern yang mendunia melalui gerakan Sagulicious.
Dari Keresahan Menjadi Inovasi Mandiri
Langkah Jenny bermula dari sebuah pengamatan tajam terhadap ketimpangan konsumsi pangan di tanah air. Sagu, yang merupakan tanaman asli Nusantara dan makanan pokok masyarakat Indonesia Timur, selama ini terpinggirkan oleh dominasi padi dan gandum. Citra sagu sering kali terjebak dalam sajian tradisional seperti papeda, yang meski nikmat, dianggap kurang praktis bagi masyarakat perkotaan.
”Hati saya terpanggil untuk melakukan sesuatu bagi Indonesia. Sagu adalah produk unggulan yang tidak dimiliki negara lain dalam skala sebesar kita. Ini adalah identitas yang harus kita bangkitkan,” ujar Jenny dengan penuh keyakinan.
Memanfaatkan masa pandemi COVID-19 sebagai momentum bereksperimen, Jenny melakukan riset mandiri untuk mendobrak batasan tekstur sagu. Hasilnya, ia berhasil menciptakan mie, pasta, dan keripik yang terbuat dari 100% sagu. Saat ini, Sagulicious telah memayungi lebih dari 100 varian produk yang tidak hanya lezat, tetapi juga menjawab tren kesehatan global karena bersifat gluten-free.
Momentum Emas di Tanah Papua
Titik balik kejayaan Sagulicious terjadi pada perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON) 2021 di Papua. Ketika pemerintah daerah mencari cara menyajikan pangan lokal yang praktis bagi para atlet, inovasi mie sagu instan dan makaroni sagu milik Jenny menjadi jawaban. Produknya resmi menjadi suvenir ikonik bagi para atlet dan pejabat negara, sekaligus membuktikan bahwa sagu bisa tampil modern dan berkelas.
Keberhasilan ini membawa Jenny terbang lebih jauh. Di kancah internasional, ia telah mencetak berbagai prestasi membanggakan:
Diplomasi Kuliner: Menyajikan 10.000 cup mie sagu di KBRI Beijing.
Ekspansi Pasar: Mengikuti misi dagang ke Tokyo, Osaka, dan Thailand di bawah naungan Kementerian Perindustrian dan Bappenas.
Penghargaan Global: Meraih APEC Award serta penghargaan ASEAN atas kontribusi proyek pangannya di Rusia.
Sagu sebagai Benteng Ekologis dan Ekonomi
Jenny tidak hanya bicara soal rasa, tetapi juga soal keberlanjutan bumi. Ia memaparkan fakta teknis yang memposisikan sagu sebagai “tanaman masa depan” dibandingkan padi:

“Satu pohon sagu mampu memberi makan satu desa selama satu bulan. Ini adalah harta karun yang tumbuh tanpa perlu kita rusak hutannya,” jelas Jenny. Ia menekankan pentingnya menjaga hutan sagu sebagai benteng alami terhadap bencana dan kelaparan, sekaligus memprotes alih fungsi lahan sagu menjadi komoditas lain.
Melalui Asosiasi Sagu Indonesia dan buku Sagu Indonesia yang diluncurkan di Bappenas, Jenny mendesak pemerintah untuk memperkuat hilirisasi. Ia tidak ingin Indonesia terjebak pada pola lama: mengekspor bahan mentah yang kemudian diolah oleh negara tetangga dan dijual kembali ke Indonesia dengan harga mahal.
Ia juga ingin menghapus stigma negatif tentang sagu. “Siapa bilang makan sagu itu identik dengan kemiskinan? Justru makan sagu adalah pilihan mereka yang sadar kesehatan. Ini solusi alami untuk diabetes dan gangguan asam lambung,” tegasnya.
Bagi Jenny, pencapaiannya saat ini barulah permulaan. Dengan potensi lahan sagu Indonesia yang sangat luas, ia merasa baru menyentuh kurang dari 10% potensi yang ada. Perjuangannya adalah tentang mewariskan kedaulatan pangan bagi anak cucu bangsa, memastikan bahwa Indonesia tidak hanya menjadi penonton di pasar pangan global, tetapi menjadi pemain utama melalui emas putih dari hutan perawan Nusantara.
(Igo)
Related posts:

Begini Besaran UMK yang Bey Machmudin Tetapkan Di Jawa Barat Tahun 2025

Edukasi Masyarakat, OJK Cirebon Gelar Deklarasi Perangi Investasi Ilegal, Pinjol Ilegal dan Judi On...

Tanamkan Kesadaran Finansial Sejak Dini, Jasaraharja Putera Hadir di PKKMB Politeknik Negeri Padang

WPMI Diberi Peluang Menparekraf Sandiaga Uno Menjadi Garda Terdepan Pengembangan Pengusaha Muslima...

Konsorsium Kota Tua mengadakan Gebyar Passer Kota Tua Tanggal 28-30 Oktober 2022 ku

Wakil Wali Kota Dukung Wirausaha Muda: Perkuat Peran Generasi Muda Dalam Pembangunan Ekonomi Daerah

Taati Aturan, Pengusaha Cafe di Jakbar Langsung Tutup Sementara

Buat Perempuan Lebih Percaya Diri Ada Glow Inside Out, Kolaborasi ZAP X Nipplets

International Women’s Day 2026: Equinix Soroti Pentingnya Inklusi Digital bagi Perempuan Asia-Pasif...







