Festival Film Horor (FFH) kembali menunjukkan eksistensinya sebagai ajang apresiasi bagi insan perfilman Indonesia yang konsisten menggarap genre horor. Pada penyelenggaraan edisi ke-7 yang digelar pada Juni 2026, film Badut Gendong berhasil keluar sebagai film terpilih setelah melalui proses.
Radarbuana | Jakarta – Festival Film Horor (FFH) yang rutin digelar setiap tanggal 13 setiap bulannya kembali menarik perhatian para pecinta film Indonesia. Ajang apresiasi yang secara khusus memberikan penghargaan terhadap karya-karya bergenre horor tersebut kini telah memasuki edisi ke-7.
Pada penyelenggaraan bulan Juni 2026, film Badut Gendong berhasil dinobatkan sebagai film terpilih FFH setelah dinilai unggul dibandingkan sejumlah film horor lain yang tayang dalam periode penjurian.
Tidak hanya menyabet predikat sebagai film terbaik, Badut Gendong juga memborong sejumlah kategori penting lainnya. Film tersebut berhasil mengantarkan Charles Gozali sebagai sutradara terpilih, sementara Hani Pradigya dinobatkan sebagai Director of Photography (DoP) terbaik berkat kualitas pengambilan gambar yang dinilai mampu memperkuat atmosfer cerita serta memberikan pengalaman visual yang memuaskan bagi penonton.
Sementara itu, penghargaan pemain terpilih justru diraih oleh dua aktor dari film berbeda. Benidictus Siregar yang tampil dalam film Sekawan Limo2 dinobatkan sebagai pemain pria terpilih, sedangkan Callista Arum melalui aktingnya di film Tumbal Proyek berhasil meraih predikat pemain wanita terpilih.
Berbeda dengan penghargaan perfilman pada umumnya yang menetapkan nominasi sejak awal, FFH menerapkan sistem penilaian yang cukup unik. Tim juri tidak menentukan daftar nominasi terlebih dahulu. Seluruh film horor yang beredar dalam rentang waktu tertentu otomatis masuk dalam radar penilaian.
Untuk edisi ke-7 ini, periode penjurian berlangsung sejak 13 Mei 2026 hingga 12 Juni 2026. Dalam kurun waktu tersebut terdapat lima film horor yang telah maupun sedang tayang di bioskop Indonesia, yakni Sekawan Limo2, Gudang Merica, Tumbal Proyek, Badut Gendong, dan Monster Pabrik Rambut.
Ketua Juri FFH, Ismail, menjelaskan bahwa keputusan memilih Badut Gendong bukan dilakukan secara sembarangan. Menurutnya, film tersebut memenuhi berbagai indikator yang menjadi standar penilaian dewan juri.
Ia menyebut salah satu kekuatan utama Badut Gendong terletak pada keberhasilannya mengangkat budaya lokal ke dalam narasi cerita. Unsur tersebut dinilai penting karena memberikan identitas kuat terhadap film Indonesia sekaligus memperkaya khasanah perfilman horor nasional.
Selain itu, alur cerita yang runtut dan mudah dipahami menjadi nilai tambah tersendiri. Bagi tim juri, sebuah film horor bukan hanya dituntut mampu menghadirkan rasa takut dan hiburan semata, tetapi juga harus memiliki logika cerita yang dapat diterima oleh penonton.
“Keempat film lain bukan tak memenuhi kriteria, namun karena harus memilih yang terbaik dari film yang beredar selama periode penjurian, tim memutuskan Badut Gendong sebagai film terpilih edisi ke-7 Festival Film Horor (FFH). Dan semua film yang beredar tersebut patut ditonton karena banyak pesan yang disampaikan agar tidak melakukan hal buruk terhadap sesama masyarakat,” ujar Ismail di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu (13/6/2026).
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa FFH tidak semata-mata menilai dari aspek teknis ketakutan atau efek kejut yang ditampilkan sebuah film. Lebih dari itu, keberadaan pesan moral, kedekatan dengan realitas sosial, hingga kemampuan cerita menyentuh sisi kemanusiaan menjadi pertimbangan penting dalam proses penjurian.
Mengenai kategori penyutradaraan, Ismail menilai Charles Gozali berhasil menunjukkan kapasitasnya dalam menerjemahkan naskah menjadi tontonan yang efektif. Kemampuan mengatur ritme cerita, membangun ketegangan, serta menjaga alur tetap logis dinilai sebagai pencapaian tersendiri yang tidak mudah diwujudkan dalam film bergenre horor.
Menurutnya, banyak film horor terjebak pada eksploitasi adegan menakutkan tanpa memperhatikan fondasi cerita. Namun, Charles dinilai mampu menjaga keseimbangan antara unsur hiburan, ketegangan, dan rasionalitas cerita sehingga menghasilkan pengalaman menonton yang utuh.
Sementara itu, penghargaan untuk Director of Photography diberikan kepada Hani Pradigya. Tim juri mengapresiasi kualitas visual yang dihadirkan melalui komposisi gambar, sudut pengambilan adegan, pencahayaan, serta kemampuan menciptakan atmosfer mencekam yang mendukung narasi film.
Pengambilan berbagai adegan dalam Badut Gendong dinilai berhasil memperkuat emosi penonton, membuat setiap momen terasa hidup, sekaligus meningkatkan kualitas artistik film secara keseluruhan.
Di sisi lain, penghargaan akting diberikan kepada Benidictus Siregar dan Callista Arum sebagai bentuk pengakuan atas totalitas mereka dalam memerankan karakter masing-masing.
Benidictus Siregar melalui Sekawan Limo2 dinilai mampu menghadirkan karakter yang kuat dengan ekspresi yang natural serta penghayatan emosi yang meyakinkan. Sedangkan Callista Arum dianggap berhasil menampilkan performa yang memikat dalam Tumbal Proyek, sehingga mampu meninggalkan kesan mendalam bagi penonton.
Mengakhiri keterangannya, Ismail menegaskan bahwa seluruh insan perfilman yang terlibat dalam lima film yang dinilai sesungguhnya telah menunjukkan dedikasi dan kemampuan terbaik mereka.
Menurutnya, FFH memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pekerja seni, baik yang berada di depan maupun di belakang layar, karena telah berupaya menghadirkan karya berkualitas bagi masyarakat Indonesia.
Namun, sebagai sebuah ajang penghargaan, dewan juri tetap harus menentukan pilihan terhadap karya-karya yang dianggap paling menonjol pada periode tertentu.
Melalui hasil penilaian edisi ke-7 ini, FFH kembali menegaskan bahwa perfilman horor Indonesia terus berkembang dengan kualitas yang semakin baik. Tidak hanya mengandalkan teror dan kejutan, film-film horor nasional kini juga mulai memperkuat identitas budaya, pesan moral, kualitas visual, hingga kedalaman cerita sebagai daya tarik utama.
Keberhasilan Badut Gendong menjadi film terpilih FFH edisi ke-7 pun diharapkan dapat menjadi motivasi bagi para sineas Indonesia untuk terus melahirkan karya-karya horor yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memiliki nilai artistik dan relevansi sosial yang kuat.
(ig).






