Radarbuana | Jakarta– Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Garuda Astacita Nusantara (GAN) menyatakan dukungan penuh terhadap langkah Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, yang menginisiasi pertemuan strategis antara pemerintah dan otoritas ekonomi guna memperkuat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter dalam menjaga stabilitas perekonomian nasional di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian.
Dukungan tersebut disampaikan Ketua Umum DPP GAN, Muhammad Burhanuddin, yang menilai inisiatif tersebut sebagai langkah strategis dan responsif dalam menghadapi berbagai tantangan ekonomi yang saat ini dihadapi Indonesia. Menurutnya, sinergi yang kuat antara pemerintah, DPR RI, Bank Indonesia, dan lembaga-lembaga ekonomi lainnya menjadi faktor penting untuk memastikan kebijakan ekonomi nasional berjalan efektif dan saling mendukung.
Pertemuan strategis yang berlangsung di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, itu dihadiri sejumlah pejabat tinggi negara yang memiliki peran sentral dalam pengelolaan ekonomi nasional. Hadir dalam forum tersebut Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, serta pimpinan Komisi XI DPR RI Moh. Hekal..
Forum tersebut menjadi ruang koordinasi lintas lembaga untuk merespons berbagai perkembangan ekonomi nasional dan global. Sejumlah isu strategis menjadi perhatian utama, mulai dari gejolak pasar keuangan internasional, ketidakpastian geopolitik, fluktuasi nilai tukar mata uang, hingga perlambatan ekonomi di sejumlah negara mitra dagang Indonesia yang berpotensi memengaruhi kinerja perekonomian nasional.
Dalam pertemuan itu, pemerintah bersama Bank Indonesia dan para pemangku kepentingan ekonomi membahas langkah-langkah strategis yang diperlukan untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional. Fokus pembahasan diarahkan pada penguatan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter agar mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang sehat, berkelanjutan, dan inklusif.
Sufmi Dasco Ahmad menegaskan bahwa pertemuan tersebut menghasilkan sejumlah kesepakatan penting yang telah disampaikan oleh masing-masing pihak. Kesepakatan tersebut diharapkan menjadi fondasi bersama dalam menjaga stabilitas ekonomi Indonesia di tengah tantangan global yang diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa waktu mendatang.
Menurut Dasco, komunikasi yang intensif antara pemerintah, DPR RI, Bank Indonesia, serta berbagai institusi ekonomi merupakan langkah penting agar seluruh kebijakan yang diterbitkan berjalan dalam satu arah dan memiliki dampak yang optimal bagi masyarakat maupun dunia usaha.
Ketua Umum DPP GAN Muhammad Burhanuddin menilai kondisi ekonomi global saat ini membutuhkan respons yang cepat, terukur, dan terkoordinasi. Karena itu, mempertemukan seluruh pemangku kepentingan ekonomi dalam satu forum dinilai sebagai langkah penting untuk menyatukan visi serta memperkuat efektivitas kebijakan ekonomi nasional.
Burhanuddin menegaskan bahwa koordinasi yang solid antara otoritas fiskal dan moneter dapat memperkuat kepercayaan pasar, menjaga stabilitas makroekonomi, serta menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif. Selain itu, sinergi tersebut juga dinilai mampu memperkuat sektor keuangan nasional dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Ia menambahkan bahwa penguatan koordinasi kebijakan ekonomi memiliki dampak langsung terhadap stabilitas nilai tukar rupiah. Dengan kebijakan yang saling mendukung, pemerintah dan Bank Indonesia dapat mengendalikan inflasi, menjaga daya beli masyarakat, serta meningkatkan kepercayaan pelaku usaha terhadap prospek ekonomi nasional.
Menurut Burhanuddin, menjaga stabilitas ekonomi bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata. Seluruh elemen bangsa, termasuk organisasi masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat luas, perlu mengambil peran dalam mendukung berbagai kebijakan yang bertujuan memperkuat ketahanan ekonomi nasional..
Refleksi Kemandirian Bangsa
Selain menyoroti pentingnya koordinasi ekonomi, Burhanuddin juga menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya membangun kemandirian bangsa di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Ia menilai bahwa sejarah menunjukkan negara-negara yang berupaya memperkuat kedaulatan ekonomi dan politik sering kali menghadapi berbagai tantangan, baik yang berasal dari faktor eksternal maupun internal. Tantangan tersebut dapat berupa tekanan ekonomi global, persaingan geopolitik, dinamika pasar internasional, hingga kondisi politik domestik yang berpotensi memengaruhi jalannya pembangunan nasional..
Meski demikian, Burhanuddin menegaskan bahwa tantangan tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling mencurigai atau melemahkan semangat pembangunan. Sebaliknya, situasi tersebut harus dijadikan momentum untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional dan meningkatkan ketahanan bangsa.
Menurutnya, keberhasilan suatu negara tidak hanya ditentukan oleh faktor eksternal, tetapi juga oleh kekuatan internal yang dimiliki. Tata kelola pemerintahan yang baik, pemberantasan korupsi, peningkatan kualitas pendidikan, penguasaan teknologi, persatuan sosial, serta kepemimpinan yang visioner menjadi faktor utama dalam menentukan kemajuan sebuah bangsa..
Burhanuddin menjelaskan bahwa konsep kemandirian yang didorong pemerintah bukan berarti menutup diri dari kerja sama internasional. Sebaliknya, kemandirian merupakan kemampuan bangsa untuk berdiri kokoh dan memiliki posisi tawar yang kuat dalam setiap bentuk kerja sama global.
Ia menegaskan bahwa kemandirian nasional harus didukung oleh kapasitas industri yang kuat, ketahanan pangan yang memadai, ketersediaan energi yang berkelanjutan, sistem keuangan yang sehat, serta sumber daya manusia yang unggul dan kompetitif..
Burhanuddin juga menyoroti besarnya peluang Indonesia untuk menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia. Dengan kekayaan sumber daya alam, bonus demografi yang besar, serta posisi strategis di kawasan Indo-Pasifik, Indonesia memiliki modal yang cukup untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi global pada masa mendatang.
Namun, ia mengingatkan bahwa peluang tersebut hanya dapat diwujudkan apabila seluruh elemen bangsa mampu menjaga persatuan dan tetap fokus pada agenda pembangunan jangka panjang. Penguatan institusi, pengembangan ilmu pengetahuan, serta dorongan terhadap inovasi berkelanjutan menjadi aspek penting yang harus terus diperkuat.
“Indonesia tidak akan menjadi bangsa besar karena kebetulan. Indonesia akan menjadi bangsa besar karena rakyatnya memilih untuk bekerja sama, memperkuat institusi, mengembangkan ilmu pengetahuan, serta menjaga semangat kemandirian dalam menghadapi perubahan zaman,” ujar Burhanuddin.
Ia menutup pernyataannya dengan mengajak seluruh masyarakat untuk memperkuat persatuan nasional, meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan dan penguasaan ilmu pengetahuan, serta menghadapi berbagai tantangan global dengan optimisme dan rasa percaya diri.
“Kemandirian bukanlah sesuatu yang dicapai dalam waktu singkat.
Kemandirian adalah perjalanan panjang yang membutuhkan kesabaran, keberanian, inovasi, dan keyakinan bahwa masa depan bangsa berada di tangan kita sendiri,” pungkasnya.






