Radarbuana | Klaten – Keamanan pangan menjadi perhatian dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Untuk memastikan makanan yang diterima peserta didik aman dikonsumsi, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ngemplak, Kecamatan Karangnongko, Kabupaten Klaten, bersama Yayasan Merah Putih Peduli menggelar sosialisasi food safety kepada wali murid.
Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Serbaguna Desa Ngemplak, Kecamatan Karangnongko, dan diikuti sekitar 120 wali murid SDN Ngemplak Karangnongko.
Koordinator Food Safety Yayasan Merah Putih Peduli, Davit Joko Saputro, mengatakan sosialisasi dilakukan untuk memberikan pemahaman sekaligus meyakinkan para wali murid bahwa makanan MBG yang diproduksi SPPG Ngemplak Karangnongko telah melalui tahapan pemeriksaan keamanan pangan.
“Kegiatan sosialisasi ini dilakukan untuk lebih meyakinkan wali murid penerima manfaat MBG bahwa MBG dari SPPG Ngemplak Karangnongko aman untuk dikonsumsi karena sudah melewati proses food safety,” ujar Davit.
Menurutnya, pemeriksaan keamanan pangan tidak hanya dilakukan ketika muncul persoalan, tetapi menjadi bagian dari prosedur yang diterapkan secara rutin sebelum makanan dikemas dan didistribusikan kepada penerima manfaat.
“Pemeriksaan food safety dilaksanakan setiap hari sebelum makanan di-packing dan didistribusikan,” jelasnya.
Davit menegaskan, penerapan standar operasional prosedur (SOP) food safety menjadi bagian penting dalam proses penyediaan makanan MBG di SPPG yang berada di bawah naungan Yayasan Merah Putih Peduli.
“SOP food safety sudah diterapkan di setiap SPPG di bawah naungan Yayasan Merah Putih Peduli,” katanya.
Ia menjelaskan, pemeriksaan keamanan pangan merupakan langkah pencegahan awal untuk mengantisipasi adanya bahaya kimia yang berpotensi terkandung dalam makanan. Upaya tersebut dilakukan untuk menekan risiko terjadinya gangguan kesehatan maupun keracunan makanan akibat kontaminasi bahan berbahaya.
Dalam pemeriksaan tersebut, sejumlah parameter menjadi perhatian, di antaranya arsen, nitrit, sianida, dan formalin.
Davit menambahkan, keamanan makanan menjadi salah satu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari penyelenggaraan MBG. Selain memastikan makanan memenuhi kebutuhan gizi penerima manfaat, proses pengolahan hingga distribusi juga perlu memperhatikan aspek higienitas dan keamanan pangan.
Melalui sosialisasi tersebut, pihaknya berharap wali murid tidak hanya mendapatkan informasi mengenai makanan yang diterima anak-anak mereka, tetapi juga memahami bahwa terdapat prosedur pengawasan keamanan pangan yang dilakukan sebelum makanan sampai ke tangan penerima manfaat.
“Harapannya wali murid bisa memahami bahwa keamanan pangan menjadi bagian dari proses MBG dan pemeriksaan dilakukan sebagai upaya pencegahan sejak awal,” pungkasnya.
(Ani Sumadi)






