Jakarta, RadarBuana.com – JS yang baru saja di laporkan oleh RDC ke Komnas HAM Perempuan, Jum’at (11/12/2020) lalu, terkait dugaan tindak pidana Pelecehan Sexual.
JS ditemui di kantornya di wilayah Kemang Jakarta Selatan memaparkan, bahwa terkait hal pemberitaan yang menyeret namanya tersebut, dirinya tidak akan menempuh jalur hukum, meskipun dirinya merasa bahwa dia yang sebenarnya menjadi korban atas pemberitaan tersebut.
“Sebenarnya saya yang merasa dirugikan dalam hal ini. Selain mencemarkan nama baik, saya juga merasa ditipu oleh RDC, karena sudah mengirim dana untuk jasa pijit, namun tidak ada kabar lagi hingga larut malam. Tapi saya tidak mempermasalahkan hal tersebut dan tidak akan membawa ke ranah hukum, walaupun dana tersebut sudah dikembalikan kepada saya esokan harinya, Selasa (8/12/2020),” ucapnya.
Ia menceritakan kronoligisnya, sembari mengatakan jangan sampai memojokan RDC dalam pemberitaan.
“Sebenarnya awal pertama kali saya bertemu dengan beliau Rienike Delira Cahyadi (RDC) itu pada tanggal 15 Juni 2020. Keesokan harinya (16/6/2020) dia menghubungi saya melalui chat WhatsApp meminjam sejumlah uang untuk kebutuhan biaya sekolah anaknya, Namun pada saat itu saya tidak berikan karna saya juga tidak punya uang untuk membantunya. Hubungan kami semakin akrab hingga dia juga menceritakan profesi dia sebagai Terapis, waktu kami (saya dan 2 orang teman) mengantarkan dia pulang ke hotel di daerah Kapuk, Jakarta Utara. Jadi niat saya sebenarnya murni untuk membantu dirinya, karna dia masih memiliki anak yang butuh biaya sekolah.” terangnya.
“Sebenarnya yang dipermasalahkannya adalah ucapan saya pada tanggal 7 Desember 2020, terkait tulisan saya di Pesan WhatsApp yang dianggapnya telah melecehkan dirinya, padahal jelas dalam tulisan saya tidak ada unsur pelecehan sama sekali. Saya juga tidak menulis dalam WhatsApp tersebut akan mengajak dirinya berhubungan intim, disitu saya cuma mengajaknya ke hotel karna saya mengira dia juga masih tinggal di hotel yang dulu saya antar dan ada hal yang lain akan saya bicarakan dengan dirinya, sekalian saya minta di pijit olehnya, karna saya tau bahwa profesi dia adalah seorang Terapis.” jelas JS kepada awak media.
Ia menyebutkan, kalau dia bisa menunjukan bukti percakapan pesan WhatsApp kepada media, terpaksa saya juga menunjukan bukti pesan WhatsApp saya dengan dirinya kepada media.
“Ini saya lakukan terpaksa, karna saya merasa dirugikan dalam hal ini. Saya tau sebenarnya dia bukanlah orang seperti itu, tapi menurut saya, saya menduga ada orang lain dibelakangnya yang menghasut dan ingin menjatuhkan saya dalam posisi saya di partai ini.” sebutnya.
“Sebenarnya, kalau menurut RDC chatingan saya melecehkan dirinya, kenapa dia tidak marah, atau menegur saya langsung? Ini malah dia membalas dengan menyanggupi agar segera transfer uang untuk booking hotel di daerah Cilincing, Jakarta Utara. Dirinya juga malah yang mencarikan hotel dan meminta saya segera transfer uang sebesar 400 ribu (300 ribu untuk kamar dan 100 ribu untuk deposit). Namun saya hanya transfer ke rekening RDC sebesar 300 ribu, seraya berkata, untuk uang deposit nanti biar saya yang bayarkan cash ketika berada di hotel.” ungkapnya.
“Ya sudahlah, saya baru tau itulah yang namanya politik, saya juga baru pertama kali mengalami hal seperti ini selama bergelut dalam dunia politik. Jadi ya agak kaget dan membuat saya kepikiran akibat pemberitaan tersebut. Jika saya tidak segera selesaikan hal tersebut, maka mungkin akan menghancurkan Karier dan rumah tangga saya, yang telah saya bina selama ini.” tambah JS.
JS juga mengatakan, kalau sebenarnya dirinya merasa kasihan dan ingin membantunya dengan meringankan beban biaya sekolah anaknya, tapi setelah kejadian ini, dirinya akan lebih hati-hati kembali dalam membantu orang lain.
“Dan seandainya saya disuruh minta maaf atas chatingan saya di WhatsApp yang dianggap melecehkan dia (RDC), pasti akan saya lakukan kok. Saya juga tidak akan malu untuk meminta maaf bilamana dia merasa dilecehkan. Kalau menurut keyakinan saya, dia merasa dilecehkan mungkin akibat saya menceritakan profesinya sebagai Terapis kepada teman saya ‘R’, tapi justru kenapa harus malu dengan profesinya tersebut?, justru kita harus menghargai setiap profesi orang lain kok, dan untuk profesi tukang pijat sebenarnya itu sah-sah saja kok menurut saya.” imbuhnya.
“Walaupun dia pernah mengucapkan kalimat, “terserah bapak maunya gimana, saya ikutin aja deh”, namun saya tidak pernah menganggap yang aneh-aneh selain ingin merasakan pijitannya, karna dia seorang Terapis, saya kenal dia tidak seperti itu orangnya, saya yakin pasti ada orang lain dibelakang dia yang menghasut dan mendorong dirinya untuk bertindak sejauh ini, waktu dalam videonya juga terkesan ada orang lain yang mengarahkan. Biarpun seperti itu, saya tekankan sekali lagi, bahwa saya tidak akan membawa masalah ini ke ranah hukum, kita ada dewan partai, kenapa tidak diselesaikan saja di internal dulu.” pungkasnya. Fahmy
Related posts:

Tak Kapok, Ibra Azhari Kembali Terkena Kasus Narkoba

TNI & Polri di Jakbar Kompak, Laksanakan Gowes Sambil Patroli PSBB Bersama

Melalui Rekrutmen Proaktif,.Kapolri Wujudkan Mimpi Teuku Tegar Atlet Peraih Emas PON Jadi Polisi

Elza Syarief dan Rekan Beberkan Perkembangan Kasus Pemukulan Mami Isa. Siapa Dalang Dibaliknya ?

Kapolri Meminta Wujudkan Representasi Negara Hadir Disetiap Wilayah

Tim Penggerak PKK Bersama DWP, Bagikan Paket Sembako dan Santunan Saat Kegiatan Safari Ramadhan

Polres Jakbar Paparkan Berhasilan Ungkap Tindak Kejahatan Selama Tahun 2019

Kapolsek Himbau Masyarakat Kerjasama dan Ikut Mengantisipasi Penyebaran Pandemi Covid-19.

KSBB Kordinator Penyaluran Bantuan Sosial Tepat Sasaran







