Radarbuana | Jakarta — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali menunjukkan peran strategisnya dalam ilmu kebencanaan global dengan menyelenggarakan 2nd PlateauPlus International Workshop bertema “PlateauPlus in Tethys”. Kegiatan yang digelar pada 25–26 November 2025 di Auditorium BMKG, Jakarta, ini menghadirkan 46 pakar gempabumi, tektonik, dan geologi kelas dunia dari sembilan negara.
Workshop internasional tersebut menjadi wadah pertukaran pengetahuan para ilmuwan untuk memperdalam studi tentang sistem plateau (dataran tinggi) dan relevansinya terhadap dinamika bumi, iklim, hidrologi, serta risiko bencana—khususnya bagi Indonesia yang berada di kawasan tektonik paling kompleks di dunia.
Dataran Tinggi Sebagai Laboratorium Alam Memahami Tektonik Indonesia
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menegaskan bahwa riset mengenai dataran tinggi sangat penting untuk memahami proses tektonik dan geologi global yang turut membentuk karakter kepulauan Indonesia.
“Dataran tinggi adalah laboratorium alam. Dari sana kita mempelajari interaksi antara faktor geologis, lingkungan, hingga aktivitas manusia. Semua itu memperkaya pemahaman kita terhadap dinamika Bumi dan risiko bencana,” ujar Faisal.
Menurutnya, sebagian besar wilayah Indonesia tersusun dari fragmen kerak bumi purba yang berasal dari Samudra Tethys pada masa Mesozoikum. Interaksi empat lempeng besar—Indo-Australia, Eurasia, Pasifik, dan Laut Filipina—menciptakan mosaik geologi yang sangat rumit, menjadikan Indonesia salah satu negara paling rawan gempa dan letusan gunung api.
Ia mengingatkan bahwa sejarah bencana besar seperti letusan Tambora 1815 dan Krakatau 1883 hingga tsunami Aceh 2004 adalah bukti nyata pentingnya pemahaman tektonik dalam mitigasi risiko.
Indonesia Jadi Lokasi Strategis Studi Tektonik Global
Chair of PlateauPlus Association, Lin Ding, menyebut Indonesia sebagai “laboratorium alam langka” bagi riset tektonik dunia.
“Sistem plateau memengaruhi sirkulasi iklim dan hidrologi global. Asal-usul tektoniknya juga berkaitan dengan gempa, vulkanisme, dan tsunami—topik yang sangat relevan dengan kondisi Indonesia,” ungkapnya.
Lin menilai pertemuan ini menjadi kesempatan emas bagi para ilmuwan lintas negara untuk bertukar ide, memperluas riset bersama, serta membangun kolaborasi jangka panjang.
Fokus Pada Evolusi Bumi dan Penguatan Mitigasi Bencana
Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, menekankan pentingnya kolaborasi riset plateau walaupun Indonesia bukan negara dataran tinggi.
“Kondisi tektonik dan iklim Indonesia tetap berinteraksi dengan sistem dataran tinggi global. Dampaknya merembes hingga ke aspek sosial-budaya dan pemahaman masyarakat terkait mitigasi bencana,” kata Nelly.
Ia menyebut bahwa forum dua hari ini menampilkan lima sesi ilmiah utama melibatkan 46 pembicara dari China, Jerman, Indonesia, Iran, Jepang, Oman, Pakistan, Inggris, dan Amerika Serikat. Lebih dari 60 poster penelitian juga dipresentasikan, memperkaya diskusi para peserta.
Kunjungan Lapangan Amati Geologi Jawa Barat
Sebagai lanjutan diskusi ilmiah, para peserta dijadwalkan melakukan ekskursi lapangan ke Jawa Barat pada 27 November 2025 untuk mengamati kondisi geologi aktual, termasuk proses deformasi kerak, aktivitas sesar, serta jejak dinamika tektonik di wilayah tersebut.
Workshop ini merupakan kerja sama antara Institute of Tibetan Plateau–Chinese Academy of Sciences (ITP-CAS), BMKG, dan STMKG, dengan harapan memperkuat jejaring riset serta meningkatkan kemampuan mitigasi bencana di tingkat nasional maupun global.
BMKG Tegaskan Komitmen untuk Riset Kebencanaan Dunia
Di penutupan pidatonya, Kepala BMKG menyerukan pentingnya riset kolaboratif dalam menyelamatkan nyawa.
> “Setiap pengetahuan yang dibangun hari ini adalah langkah nyata untuk mengurangi korban bencana di masa depan. Indonesia berkomitmen menjadi bagian aktif dari upaya global memahami dinamika Bumi,” tegas Faisal.
Dengan hadirnya pakar tektonik dunia di Jakarta, BMKG berharap penelitian tentang dataran tinggi dan sistem tektonik global dapat diintegrasikan ke dalam strategi mitigasi bencana nasional, sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat terhadap ancaman geologi.
[]
Related posts:

Depan Kantor Sekretariat Aliansi Jurnalis Video ( AJV) Dijadikan Tempat Sampah, Pengurus Akan Lapo...

Suara Anak Indonesia 2020 Salurkan Aspirasinya Kepada Menteri PPPA

Rusdi Taher: Diduga Ada Pembiaran Khusus LP Sukamiskin Terhadap Napi Koruptor NA

Gagasan Menghapus Tilang Langsung, Polri Maksimalkan ETLE

Gelar Pahlawan Nasional Untuk Soeharto Dinilai tidak Relevan dan Problematik

Diwacanakan Uji Emisi Bakal Jadi Syarat Pembayaran Pajak Kendaraan

KPI: Pengaturan Konten Isi Siaran Dalam Revisi UU No.32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran Harus Diutamak...

Kapolri Lantik Komjen Ahmad Dofiri Sebagai Wakapolri yang Baru

CERI Soroti Dugaan Impor Minyak Rusia, Plt Kepala BLU Lemigas Belum Beri Tanggapan atas Surat Konfi...







