DaerahNusa Tenggara

Kasus di Sumba, Menteri PPPA: Perlu Ada Langkah Konkret Menghentikan Agar Tidak Terulang Lagi

×

Kasus di Sumba, Menteri PPPA: Perlu Ada Langkah Konkret Menghentikan Agar Tidak Terulang Lagi

Share this article
Menteri PPPA, Bintang Puspayoga melakukan kunjungan kerja ke Sumba, Nusa Tenggara Timur. (foto/Kemen PPPA).

Waingapu, Sumba Timur, RadarBuana.com – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga melakukan kunjungan kerja ke Sumba, Nusa Tenggara Timur, guna mendengar secara langsung terkait hal tersebut dari tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, akademisi, penyintas, pendamping, dan pemerintah daerah.

Hal ini terkait kasus penculikan terhadap perempuan di Sumba yang viral di media sosial. Dan dipersepsikan sebagian orang sebagai kawin tangkap yang  menimbulkan banyak pertanyaan. Apakah kasus yang merampas hak dan merugikan perempuan tersebut benar merupakan bagian dari nilai budaya Sumba.

“Kehadiran saya di sini adalah untuk mendengarkan secara langsung dari tokoh-tokoh terkait, mulai dari tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, akademisi, penyintas, pendamping, dan pemerintah daerah yang memahami nilai budaya Sumba. Kami ingin bersama-sama mencari solusi atau upaya terbaik untuk menghentikan segala bentuk tindakan kekerasan yang merugikan perempuan dan anak, termasuk kasus penculikan di Pulau Sumba yang saat ini tengah viral di media sosial. Upaya ini akan kita awali dengan komitmen dalam penandatanganan nota kesepahaman antara Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Pemerintah Daerah Sedaratan Sumba,” kata Menteri Bintang Menteri Bintang dalam kunjungannya ke Sumba belum lama ini dalam rilisnya.

Menteri Bintang menegaskan kasus penculikan merupakan salah satu bentuk kejahatan dan pelecehan terhadap adat perkawinan yang sakral dan mulia. Perlu ada langkah konkret untuk menghentikan agar hal serupa tidak terulang lagi. Menurutnya strategi utama untuk melawan konstruksi sosial yang merugikan perempuan dan anak adalah dengan memahami dan mempelajari budaya setempat serta memberikan pemahaman mengenai hak-hak perempuan dan anak. Dengan lebih memahami budaya dan kearifan-kearifan lokal terkait pemenuhan hak-hak perempuan dan anak, strategi yang dibangun akan lebih tajam, terarah, dan berjangka panjang. Untuk itu  katanya dibutuhkan sinergi dan kerjasama yang baik dari semua pihak, baik pemerintah, lembaga masyarakat, akademisi, tokoh adat, dan tokoh agama di tingkat pusat maupun daerah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *