Jakarta, Radarbuana.com – Kemudahan mengakses informasi di era digitalisasi saat ini belum dibarengi dengan kewaspadaan yang tinggi oleh masyarakat. Hal ini perlu menjadi atensi bagi para pemuka agama karena berpotensi menganggu kehidupan sosial dan ancaman kerukunan.
Melihat kecenderungan bahaya virus radikalisme di kalangan muda bahkan orang tua, saat ini sangat mengkhawatirkan bagi keutuhan Negara Indonesia .
Menyikapi keprihatinan terhadap virus literasi radikalisme Roby Sugara yang merupakan Pengajar Ilmu Sosial dan ilmu Politik di Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah ,memaparkan pendapatnya saat bincang-bincang siang hari yang di adakan di studio mini, Jakarta Selatan, Rabu (25/11/20).
Melihat banyak sekali Konten radikalisme yang beredar di dunia Maya saat ini memang sangat mengkhawatirkan apalagi di lihat para penggiat medsos itu adalah kaum milenial yang dimana mereka belum punya rem untuk mencerna konten tersebut,” paparnya
“Sebenarnya literasi Radikalisme itu sendiri ada sebagian orang berpendapat ada sisi baik nya tapi kebanyakan mereka menyimpulkan di sisi negatif nya ,seperti ajakan Jihad dan sebagainya ,mereka di jejali seruan untuk berjihad dengan iming-iming Agama”, tambahnya.
Nurhasanudin ,wakil ketua Forum Pemuda Betawi dan saat ini aktif di PMI (Palang Merah Indonesia ) DKI Jakarta yang di kesempatan ini ikut serta dalam bincang-bincang siang hari itu pun menanggapi tentang bahayanya virus Literasi Radikalisme.
“Ya Indonesia bahkan dunia saat ini pun sedang mendapatkan musibah virus Covid 19,dan sekarang ini muncul lagi virus baru yang menyerang ideologi ke Negaraan kita, yaitu Virus Radikalisme yang saya rasa sama bahayanya dengan Virus Covid 19.
Literasi Radikalisme tidak pandang bulu, ia menyerang siapa saja muda maupun tua”, urainya.
‘Berawal pasca peralihan dari era order baru menuju reformasi, lanjutnya Nurhasanudin, Negara memberikan kebebasan kepada seluruh rakyat Indonesia ,nah keran-keran kebebasan ini terbuka luas sehingga menghapus azas Tunggal Negara.
Selain itu seiring berkembang nya digitalisasi media sosial serta kurang nya minat baca bagi generasi saat ini yang membuat mereka menelan mentah-mentah apa yang di suguhkan oleh para pemilik konten yang ada di dunia Maya.
“Seharusnya peran pemerintah lah yang harus cepat tanggap menghadapi situasi seperti ini ,dimana pengawasan terhadap konten atau aplikasi di media sosial bisa di awasi secara ketat,” sarannya.
Menurutnya pendidikan yang rendah pun mengakibatkan si pengiat medsos tidak dapat memfilter kembali konten atau aplikasi tersebut ,disini lah peran orang tua dan guru dalam mendidik generasi saat ini ,jangan sampai akhirnya timbul reformasi tekhnologi menjadi alat reformasi generasi ,yang siap menyerang segala usia.
Diakhir sesi bincang-bincang Dosen ilmu sosial dan politik menyampaikan ” Ya saat ini banyak sekali penyampaian seruan berjihad,mereka menyebut nya khilafah. Khilafah itu adalah kewajiban umat Islam untuk berjuang di Jalan Allah ,tapi mereka saat ini mengsalah artikan makna dari khilafah itu sendiri ,Negara kita ini ada Pancasila ,ada undang-undang 1945, seharusnya ini lah yang jadi acuan kita hidup berNegara”, pungkas Roby. Fahmy
Related posts:

95 Jemaah Haji KBIHU Al-Hamadiyah Diwisuda di Mekah, Profesionalisme Bimbingan Jadi Sorotan

Keputusan FIFA Disesalkan DPP PSI, PSSI Diminta Melobi FIFA Agar Bersedia Mengubah Keputusan Terse...

Sudah terjadi Perampok Modus Menyamar Petugas Semprot Disinfektan

Polri dan Polisi Selandia Baru Tandatangani MoU Pencegahan dan Pemberantasan Kejahatan Transnasiona...

Pemerintah Lakukan Perubahan Aturan Perkawinan, PNS Pria Diperbolehkan Poligami, Tapi

Mukhsin Nasir: Sitaan Uang Megah Tak Berarti Rakyat Terlindungi

Dinilai Dekat dengan Ulama dan Masyarakat, Komjen Karyoto Didorong Menjadi Kapolri

Presiden Joko Widodo Mendorong Agar Vaksinasi Covid-19 Bisa Ditingkatkan

Tim Sinkronisasi Tegaskan, Tidak Benar Anggaran Makan Bergizi Rp7.500, Itu Rumor







